Raih Pendanaan USD27,5 Juta, AwanTunai Siap Digitalkan Sektor UMKM RI

Ilustrasi UMKM. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Fintech AwanTunai yang masuk dalam 2022 Forbes Asia 100 to Watch list mengumpulkan investasi sebesar USD27,5 juta atau sekitar Rp431,62 miliar (kurs: Rp15.600/dolar AS) dalam putaran pendanaan Series B, untuk menguatkan digitalisasi mereka di Indonesia.

Putaran Pendanaan Series B tersebut diprakarsai oleh perusahaan investasi asal Norwegia, Norfund; anak perusahaan MUFG Group, MUFG Innovation Partners; serta perusahaan pembiayaan dari Finlandia, OP Finnfund Global Impact Fund I.

Sedangkan mereka yang berpartisipasi dalam putaran pendanaan Series B itu, yakni Krungsri Finnovate, perusahaan fintech milik bank asal Thailand, Ayudhya; IFC; OCBC Indonesia (OCBC NISP); dan Insignia Ventures Partners, venture capital dari Singapura.

Putaran pendanaan tersebut yang mengalami oversubscribed senilai USD2,5 juta, membuat total ekuitas AwanTunai meningkat ke USD51 juta, di samping pembiayaan utang atau debt financing senilai USD47 juta. Pihak AwanTunai sendiri menolak untuk mengungkap valuasinya saat ini. AwanTunai hanya menyatakan bahwa Ebitda-nya berada pada level positif.

“Kami kagum dengan komitmen AwanTunai dalam memampukan UMKM Indonesia di sektor fast-moving consumer goods (FMCG) melalui digitalisasi proses operasi mereka dan menyediakan mereka akses ke layanan keuangan,” ujar Nobutake Suzuki selaku President and CEO MUFG Innovation Partners, pada keterangan resmi, seperti dikutip dari Forbes.com, Senin, 18 Maret 2024.

“Selain mendapatkan visibilitas ke dalam operasi klien mereka, AwanTunai memakai data science untuk menganalisa data transaksi yang tidak terstruktur dalam mengelola risiko pinjaman,” tambah Nobutake.

Pendanaan Series B ini akan digunakan oleh AwanTunai untuk permodalan pembiayaan dan teknologi pengelolaan risiko mereka. Di akhir 2024, AwanTunai menargetkan dapat membiayai USD2 miliar pembelian inventaris tahunan para nasabahnya.

Didirikan pada tahun 2016, AwanTunai menyediakan layanan pembiayaan dan pembayaran online untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), mulai dari toko kecil hingga jaringan toko kelontong. Perusahaan-perusahaan yang sebagian besar berbasis uang tunai ini dapat mengajukan permohonan secara online untuk solusi pembiayaan AwanTunai, AwanTempo, agar bisa mendapatkan modal kerja hingga Rp200 juta atau sekitar USD12.000.

Mereka juga dapat menggunakan aplikasi AwanTunai lainnya yakni AwanToko, untuk informasi pemasok, serta layanan manajemen inventaris dan pesanan. Hingga saat ini, AwanTunai mengklaim telah bekerja sama dengan lebih dari 120.000 merchant di seluruh Indonesia.

“Kami benar-benar ingin menjadi cabang atau platform awal bagi industri perbankan,” ucap salah satu pendiri dan CEO AwanTunai, Dino Setiawan.

“Kami benar-benar fokus dalam mencoba membangun teknologi yang akan memberi kami keunggulan manajemen risiko dibandingkan bank. Kami ingin melakukan hal-hal yang tidak nyaman dilakukan oleh bank, atau hal-hal yang tidak memiliki kesabaran atau bahkan pengetahuan teknis bagi mereka,” tambahnya.

Dino lebih lanjut menjelaskan, solusi teknologi AwanTunai yang paling utama adalah perangkat lunak perencanaan sumber daya perusahaan (ERP), yang memungkinkan AwanTunai menangkap data transaksi eksklusif dari UKM. Dengan menerapkan teknologi pembelajaran mesin yang dipatenkannya, AwanTunai mengklaim dapat menganalisis data transaksi dengan tujuan memitigasi potensi risiko dan aktivitas penipuan.

“Mengingat wawasan operasional kami terhadap UKM-UKM ini, mengingat kami mendapatkan data ERP, kami memiliki pemahaman yang lebih baik tentang siapa yang lebih mampu menangani jumlah pembiayaan yang lebih besar, atau apakah mereka memiliki leverage yang lebih tinggi,” bebernya.

Mengakses modal kerja masih menjadi tantangan bagi banyak pemilik usaha di Indonesia, karena sekitar 80% populasi negara ini atau 220 juta orang, adalah kelompok unbanked dan underbanked, menurut sebuah makalah yang diterbitkan pada bulan Oktober lalu oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute yang berbasis di Singapura.

Namun demikian, pinjaman dan kekayaan diperkirakan akan meningkat dengan cepat dari tingkat yang rendah di Indonesia, menurut laporan bulan Desember yang disusun bersama oleh Google, Temasek dan Bain. Pinjaman digital, yang diukur berdasarkan saldo buku pinjaman konsumen dan UKM pada akhir tahun, diperkirakan akan meningkat dari USD6 miliar pada 2023 ke USD15 miliar pada 2025, dan mencapai sekitar USD40 miliar pada 2030.

Di Asia Tenggara, startup-startup yang memanfaatkan fintech yang sedang berkembang di Indonesia telah masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch List. Ini termasuk Finture yang berbasis di Singapura, yang masuk dalam daftar tahun 2023, yang mengoperasikan layanan perbankan virtual untuk pelanggan di Indonesia melalui aplikasi mereka dan telah terlisensi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Startup keuangan syariah Alami, yang masuk dalam daftar tahun 2022, meningkatkan nilai putaran pendanaannya melalui inisiasi dari Intudo Ventures. Ini dilakukan untuk membantu mengembangkan platform pinjaman peer-to-peer yang sesuai dengan prinsip syariah.

Penulis: Steven Widjaja


	

Recommended For You

About the Author: Ari Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *