Wanita Dinilai Miliki Keberanian Lebih Besar dalam Pengambilan Risiko Bisnis

Anggota Dewan Komisioner merangkap Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Lana Soelistianingsih, dalam dialog Infobank Top 100 Most Outstanding Women 2023 berjudul “Accelerating Financial Inclusion through Women Empowerment” di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Jumat, 12 Mei 2023.

Yogyakarta – Peran wanita di masyarakat dewasa ini semakin luas. Peran mereka tidak terbatas pada urusan rumah tangga semata, namun sudah meluas hingga ke bidang profesional. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya wanita yang menduduki posisi kepemimpinan di banyak perusahaan dari berbagai sektor.

Ini sekaligus membuktikan kapasitas dan kapabilitas kaum kartini masa kini yang semakin kompeten di tengah persaingan pasar yang semakin ketat dewasa ini. Anggota Dewan Komisioner merangkap Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Lana Soelistianingsih, bahkan menyatakan jika kaum wanita memiliki keberanian lebih besar dalam pengambilan risiko bisnis ketimbang pria. Ia menilai bahwa keunggulan wanita itu juga disertai dengan kemampuan multitasking yang cenderung dimiliki oleh wanita dalam menjalani hidup.

“Kita yakin dari sisi penjaminan kita yang Rp2 miliar ke bawah, masyarakat kita ini adalah masyarakat yang peran wanitanya paling besar ya. Karena kalau tadi kita di Bantul, kita ketemu dengan wanita-wanita hebat yang punya usaha itu biasanya adalah yang berani ambil risiko untuk berwirausaha itu adalah wanita sebetulnya. Jadi kita patut bersyukur ya dilahirkan sebagai perempuan karena memang ada banyak potensi di dalam diri kita itu yang dapat fleksibel, macam-macam bisa kita lakukan. Multifunction, multitasking juga,” jelas Lana dalam dialog Infobank Top 100 Most Outstanding Women 2023 berjudul “Accelerating Financial Inclusion through Women Empowerment” di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Jumat, 12 Mei 2023.

Di samping itu, bila mengacu pada peran wanita secara kelembagaan, Lana menjelaskan bahwa pihaknya di LPS tidak menerapkan special treatment atau perlakuan khusus bagi pegawai wanita. Ia beberkan bila wanita dipandang mampu dan layak melakukan pekerjaan secara profesional selayaknya pria.

“Pegawai perempuan itu kita tidak ada perbedaan, jadi kalau ada due dilligence untuk ke daerah, karena kita kan tidak punya cabang atau perwakilan di daerah, jadi dari Jakarta karyawan wanita kita ya harus mau dikirim ke BPR atau daerah mana aja. Jadi, sejauh pengalaman saya di LPS tidak ada keluhan juga sih dari karyawan wanita kami. Kami dalam hal memberikan tugas itu tidak ada perbedaan, tidak bisa pilih-pilih karena saya wanita punya anak kecil misalnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan jika karyawan wanita di industri jasa keuangan juga terlihat lebih tangguh. Hal ini, menurutnya, bisa dilihat dari data komplain karyawan LPS selama masa WFH akibat pandemi Covid-19, dimana kebanyakan yang mengajukan komplain adalah karyawan pria.

“Saya bisa bayangkan kalau wanita kan dia di rumah ada urusan masak, rawat anak, lalu suami mereka juga di rumah. Kan tingkat stress bertambah ya. Dan kita juga menyediakan jasa konseling untuk meminimalisir tingkat stress itu, dimana jumlah karyawan pria dan wanita yang memanfaatkan jasa konseling itu ternyata imbang juga. Dan saya lihat karyawan wanita ini lebih menerima kondisi ketimbang pria, dimana karyawan milenial pria ini kalau dia tidak suka ya dia relatif lebih cepat keluar atau cari yang lain begitu,” papar Lana.

 

Penulis: Steven Widjaja

Recommended For You

About the Author: Ari Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *