Terimbas Dampak Konflik Timteng, Ini Cara Panduit Tekan Lonjakan Harga Jual

Senior Manager Panduit untuk Singapura, Malaysia dan Indonesia, Kevin Choong di Jakarta, Selasa (28/4). (Foto: Steven Widjaja)

Highlights:

  • Panduit terdampak konflik Timur Tengah melalui kenaikan biaya logistik dan pelemahan rupiah.
  • Perusahaan menerapkan strategi perencanaan bersama konsumen untuk menekan harga jual.
  • Stok bahan baku plastik global masih dinilai aman oleh Panduit.

Jakarta – Panduit, salah satu perusahaan global terkemuka yang bergerak di bidang solusi infrastruktur kelistrikan, jaringan, dan konektivitas asal Amerika Serikat dengan 112 cabang di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menyatakan tidak luput dari tantangan yang ditimbulkan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Impor bahan baku produk-produk infrastruktur kelistrikan dan jaringan Panduit, seperti plastik, tentu tak bisa terhindar dari inflasi harga akibat konflik geopolitik di Timteng. Senior Manager Panduit untuk Singapore, Malaysia dan Indonesia, Kevin Choong, menjelaskan, setidaknya ada dua tantangan utama yang tengah dihadapi pihaknya saat ini, yaitu kurs yang terdepresiasi dan inflasi biaya bahan bakar logistik.

“Sementara waktu ini, di Indonesia, risikonya adalah kurs dari USD terhadap rupiah. Jadi, kurs pertama. Kedua ialah bensin logistik. Karena, stok kita dari Amerika, China, dan Singapura. Biaya logistik sekarang terus naik,” ujar Kevin saat acara konferensi pers Panduit berjudul “Pondasi Infrastruktur TI untuk Mendukung Implementasi AI di Indonesia” di Jakarta, Selasa, 28 April 2026.

Ia lebih lanjut membeberkan, pihaknya pun telah mencanangkan sejumlah strategi untuk meredam kenaikan harga jual terhadap konsumen, seperti salah satunya berdiskusi dengan konsumen dalam perencanaan layanan produk yang ingin diberikan.

Ia mengatakan, dalam diskusi dengan konsumen itu, pihaknya turut mencanangkan budget yang dibutuhkan secara bersama-sama dengan konsumen. Sehingga, kesepakatan biaya layanan dengan kebutuhan yang diinginkan konsumen dapat tercapai secara lebih transparan.

“Setelahnya, kami akan membuat bersama dengan pabrik untuk membuat planning, termasuk memasukkan ongkos yang sudah dibahas dengan customer. Jadi, pemasangan, implementasi, dan sebagainya, tidak akan mempunyai risiko,” jelas Kevin.

Keterbukaan dengan konsumen melalui diskusi sebelumnya deal ini, akhirnya menimbulkan rasa aman dari sisi konsumen terkait biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Sehingga, faktor-faktor yang memicu kenaikan harga jual bisa ditekan lewat kesepakatan dan kepastian biaya yang realistis dengan konsumen.

“Contoh, saya butuh deal dengan konsumen sebanyak USD2 juta. Rupiahnya, misal sekitar Rp15 miliar. Sampai implementasi selesai, tak ada risiko sama customer. Karena, kita sudah hitung, rencanakan dengan pabrik, termasuk ongkos barang itu, yang konsumen sudah merasa aman,” imbuhnya.

Sementara dari stok bahan baku plastik, Kevin mengatakan jika pihaknya melihat stok plastik dari seluruh dunia masih aman terkendali.

“Dari sisi Panduit, plastik itu dari seluruh dunia masih aman dari sisi kita,” tandas Kevin.

Penulis: Steven Widjaja

Recommended For You

About the Author: Ari Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *